You must have JavaScript enabled in order to use this theme. Please enable JavaScript and then reload this page in order to continue.
Loading...
Logo Pekon Sukoyoso
Pekon Sukoyoso

Kec. Sukoharjo, Kab. Pringsewu, Provinsi Lampung

Biografi Yos Sudarso

Amran Yasir Hidayat 21 Januari 2026 Dibaca 47 Kali
Biografi Yos Sudarso

Pahlawan Nasional yang Gugur di Laut Arafura

Yosaphat “Yos” Sudarso adalah salah satu pahlawan nasional Indonesia yang namanya abadi dalam sejarah perjuangan bangsa. Ia dikenal sebagai perwira TNI Angkatan Laut yang gugur dalam Pertempuran Laut Aru pada 15 Januari 1962, saat mempertahankan kedaulatan Republik Indonesia dalam rangka pembebasan Irian Barat (kini Papua). Pengorbanannya menjadikan Yos Sudarso simbol kepemimpinan, keberanian, dan jiwa pengabdian prajurit laut Indonesia.


Profil Singkat

  • Nama lengkap: Yosaphat Sudarso

  • Tempat, tanggal lahir: Salatiga, Hindia Belanda, 24 November 1925

  • Wafat: 15 Januari 1962, Laut Arafura

  • Dinas: TNI Angkatan Laut (1945–1962)

  • Pangkat terakhir: Laksamana Pertama (anumerta Laksamana Madya TNI)

  • Penghargaan: Pahlawan Nasional Indonesia

  • Pasangan: Siti Kustini

  • Anak: 5 orang


Masa Kecil dan Pendidikan

Yos Sudarso lahir dari pasangan Sukarno Darmoprawiro, seorang polisi pada masa penjajahan, dan Mariyam. Sejak kecil, ia dikenal sebagai pribadi yang tenang, cerdas, dan santun. Pendidikan dasarnya ditempuh di HIS (Hollandsch-Inlandsche School) hingga lulus pada tahun 1940, kemudian melanjutkan ke MULO di Semarang.

Situasi penjajahan Jepang membuat pendidikannya sempat terputus. Ia kembali ke Salatiga dan menyelesaikan pendidikan setingkat SMP hingga tahun 1943, lalu melanjutkan ke sekolah guru di Muntilan. Namun, panggilan jiwa untuk mengabdi di laut membawanya masuk ke Sekolah Tinggi Pelayaran di Semarang, yang menjadi awal karier militernya.


Karier di Angkatan Laut

Yos Sudarso menempuh pendidikan opsir di Goo Osamu Butai dan dikenal sebagai lulusan terbaik. Prestasi ini mengantarkannya bertugas sebagai mualim kapal. Setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945, ia bergabung dengan BKR Laut yang kemudian berkembang menjadi Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI).

Dalam masa awal kemerdekaan, Yos Sudarso terlibat dalam berbagai operasi militer untuk menjaga keutuhan wilayah Indonesia, meskipun dengan keterbatasan armada laut. Pada tahun 1950, setelah pengakuan kedaulatan Indonesia oleh Belanda, ia dipercaya menjadi komandan sejumlah kapal perang, antara lain KRI Alu, KRI Gajah Mada, KRI Rajawali, dan KRI Pattimura.

Karier militernya terus menanjak hingga ia menjabat sebagai Komodor (Laksamana Pertama). Ia juga pernah menjalankan tugas sebagai hakim pengadilan militer dalam waktu singkat, menunjukkan kepercayaan institusi terhadap integritas dan kapasitas kepemimpinannya.


Peran dalam Pembebasan Irian Barat

Memasuki awal 1960-an, konflik Indonesia–Belanda terkait Irian Barat semakin memuncak. Presiden Soekarno mengumumkan Tri Komando Rakyat (Trikora) dan membentuk Komando Mandala pada tahun 1962 dengan markas di Makassar. Dalam struktur ini, Yos Sudarso dipercaya sebagai Deputi Operasi, bertanggung jawab atas misi infiltrasi ke wilayah pendudukan Belanda.

Tugas ini memiliki risiko tinggi, namun Yos Sudarso menjalankannya dengan penuh tanggung jawab sebagai prajurit negara.


Pertempuran Laut Aru

Puncak pengabdian Yos Sudarso terjadi pada 15 Januari 1962 dalam Pertempuran Laut Aru. Ia memimpin tiga kapal perang, yaitu KRI Macan Tutul, KRI Macan Kumbang, dan KRI Harimau, dalam sebuah operasi patroli senyap di perairan Laut Aru, Maluku.

Operasi tersebut terdeteksi oleh patroli udara Belanda. Situasi berubah drastis ketika kapal-kapal perusak Belanda yang memiliki persenjataan lebih unggul menghadang armada Indonesia. Menyadari ketidakseimbangan kekuatan, Yos Sudarso memerintahkan manuver mundur untuk menyelamatkan kapal-kapal lainnya.

Namun, KRI Macan Tutul mengalami gangguan mesin dan tidak dapat bermanuver. Dalam kondisi genting tersebut, Yos Sudarso mengambil keputusan heroik: menjadikan kapalnya sebagai tameng agar dua kapal lainnya dapat lolos dari kepungan musuh.

Serangan langsung kapal perusak Belanda akhirnya menghantam KRI Macan Tutul hingga terbakar dan tenggelam. Yos Sudarso gugur bersama sejumlah awak kapal. Pekikan terakhirnya melalui radio, “Kobarkan semangat pertempuran!”, menjadi warisan moral yang dikenang hingga kini.


Gugur dan Penghormatan Negara

Atas jasa dan pengorbanannya, pemerintah Republik Indonesia menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada Yos Sudarso. Namanya diabadikan sebagai nama jalan di berbagai daerah, Pulau Yos Sudarso, Teluk Yos Sudarso, serta sejumlah kapal perang TNI AL, termasuk KRI Yos Sudarso.

Pengorbanan Yos Sudarso juga diperingati setiap tahun oleh TNI Angkatan Laut dalam Hari Dharma Samudera, sebagai simbol semangat juang prajurit laut Indonesia dalam menjaga kedaulatan negara.


Penutup

Yos Sudarso bukan sekadar perwira TNI AL, melainkan teladan kepemimpinan dan pengabdian tanpa pamrih. Ia membuktikan bahwa laut bukan hanya wilayah geografis, tetapi medan kehormatan dalam mempertahankan kedaulatan bangsa. Semangat dan nilai perjuangannya akan terus hidup sebagai inspirasi bagi generasi penerus Indonesia.

“Lebih baik hancur daripada menyerah.” — semangat pengabdian Yos Sudarso untuk NKRI

Beri Komentar
Komentar baru terbit setelah disetujui oleh admin
CAPTCHA Image