You must have JavaScript enabled in order to use this theme. Please enable JavaScript and then reload this page in order to continue.
Loading...
Logo Pekon Sukoyoso
Pekon Sukoyoso

Kec. Sukoharjo, Kab. Pringsewu, Provinsi Lampung

Sultan Hasanuddin: Ayam Jantan dari Timur, Sang Penjaga Kedaulatan Nusantara

Administrator 28 Januari 2026 Dibaca 48 Kali
Sultan Hasanuddin: Ayam Jantan dari Timur, Sang Penjaga Kedaulatan Nusantara

Awal Kehidupan Sultan Hasanuddin

Sultan Hasanuddin merupakan salah satu pahlawan nasional Indonesia yang berasal dari Sulawesi Selatan. Ia lahir di Gowa pada 12 Januari 1631 dengan nama Muhammad Bakir I Mallombasi Daeng Mattawang Karaeng Bonto Mangape. Sejak kecil, ia telah menunjukkan kecerdasan, ketegasan, serta jiwa kepemimpinan yang kuat.

Lingkungan istana Kesultanan Gowa yang religius dan kosmopolit membentuk karakter Hasanuddin sebagai pemimpin yang berani, berprinsip, dan berpandangan luas. Sejak usia muda, ia kerap diajak ayahnya menghadiri pertemuan penting untuk mempelajari diplomasi, pemerintahan, dan strategi militer.


Keluarga dan Latar Belakang Bangsawan

Sultan Hasanuddin adalah putra dari Sultan Malikussaid, Raja Gowa ke-15, dan I Sabbe Lokmo Daeng Takontu, seorang bangsawan perempuan Gowa. Ia berasal dari keluarga kerajaan yang memiliki pengaruh besar di wilayah Indonesia Timur.

Kesultanan Gowa pada masa itu merupakan kekuatan maritim dan perdagangan utama, menguasai jalur strategis perdagangan rempah-rempah dan pelayaran internasional. Latar belakang inilah yang kelak membentuk sikap Sultan Hasanuddin yang menentang keras monopoli perdagangan VOC Belanda.


Dinamai sebagai Sultan Hasanuddin

Nama lahir beliau adalah Muhammad Baqir I Mallombasi Daeng Mattawang Karaeng Bonto Mangape. Nama tersebut diberikan oleh Qadi Kesultanan Gowa, yakni Syekh Alwi Jalaluddin Bafagih, seorang ulama keturunan Hadramaut.

Ketika naik takhta sebagai Raja Gowa, ia memperoleh gelar resmi Sultan Hasanuddin, dan setelah wafat dikenal dengan gelar anumerta Tumenanga Ri Balla Pangkana. Nama Sultan Hasanuddin kini diabadikan dalam berbagai institusi penting seperti Universitas Hasanuddin, Kodam XIV/Hasanuddin, dan Bandar Udara Internasional Sultan Hasanuddin.


Biografi Sultan Hasanuddin: Raja Pejuang dari Timur

Pendidikan dan Pembentukan Karakter

Sultan Hasanuddin mendapatkan pendidikan agama di Masjid Bontoala, pusat pendidikan Islam terkemuka di Makassar. Pendidikan ini membentuknya sebagai pemimpin yang religius, jujur, dan berprinsip kuat.

Selain agama, ia juga dibimbing langsung oleh Karaeng Pattingalloang, mangkubumi Kesultanan Gowa yang dikenal sebagai cendekiawan besar. Dari sinilah Sultan Hasanuddin menguasai politik internasional, perdagangan, dan strategi perang.


Naik Takhta Menjadi Sultan Gowa ke-16

Pada tahun 1653, dalam usia sekitar 22 tahun, Sultan Hasanuddin diangkat sebagai Raja Gowa ke-16, menggantikan ayahnya Sultan Malikussaid. Pengangkatannya merupakan amanat langsung sang ayah sebelum wafat dan disetujui oleh para bangsawan kerajaan.

Di bawah kepemimpinannya, Kesultanan Gowa mencapai masa perlawanan terbesar terhadap kolonialisme Eropa, khususnya VOC Belanda.


Perlawanan Sultan Hasanuddin terhadap VOC Belanda

Pada pertengahan abad ke-17, VOC Belanda berusaha memonopoli perdagangan rempah-rempah di wilayah timur Nusantara. Kebijakan ini ditentang keras oleh Sultan Hasanuddin karena bertentangan dengan prinsip keadilan dan kebebasan berdagang.

Sultan Hasanuddin menyatakan bahwa laut dan bumi diciptakan Tuhan untuk digunakan bersama, bukan dimonopoli oleh satu bangsa. Sikap inilah yang membuat Belanda menjulukinya “De Haantjes van Het Oosten” atau Ayam Jantan dari Timur, karena keberanian dan keteguhannya.


Perang Makassar dan Perjanjian Bungaya

Pada tahun 1660, VOC menyerang Makassar namun gagal menaklukkan Gowa. Serangan kembali dilancarkan pada 1667 di bawah pimpinan Cornelis Speelman, dengan bantuan sekutu lokal.

Karena kondisi militer yang semakin terdesak, Sultan Hasanuddin terpaksa menandatangani Perjanjian Bungaya (18 November 1667). Perjanjian ini sangat merugikan Gowa dan pada dasarnya mengesahkan monopoli VOC di Makassar.

Merasa dikhianati, rakyat dan Sultan Hasanuddin kembali melakukan perlawanan hingga Benteng Sombaopu, benteng terkuat Gowa, jatuh ke tangan Belanda pada 24 Juni 1669.


Turun Takhta dan Wafatnya Sultan Ha

Beri Komentar
Komentar baru terbit setelah disetujui oleh admin
CAPTCHA Image