Hasyim Asy'ari atau K.H. Muhammad Hasyim Asy'ari merupakan salah satu tokoh ulama paling berpengaruh dalam sejarah Indonesia. Ia dikenal sebagai pendiri Nahdlatul Ulama (NU), organisasi Islam terbesar di Indonesia, sekaligus penggerak utama perlawanan ulama terhadap kolonialisme melalui jalur keagamaan, pendidikan, dan kebangsaan. Perannya bukan hanya sebagai pemimpin spiritual, tetapi juga sebagai penjaga tradisi Islam Nusantara yang moderat dan berakar kuat pada budaya lokal.
Profil Singkat Hasyim Asy'ari
K.H. Muhammad Hasyim Asy'ari lahir pada 14 Februari 1871 di Tambakrejo, Jombang, Jawa Timur, dari keluarga ulama terpandang. Ayahnya, K.H. Asy'ari, dan ibunya, Nyai Halimah, dikenal sebagai sosok religius yang menanamkan nilai keislaman sejak dini. Hasyim Asy'ari wafat pada 25 Juli 1947 di Jombang dan dimakamkan di kompleks Pondok Pesantren Tebuireng.
Ia mendapat gelar kehormatan Hadratussyaikh, yang berarti mahaguru, serta julukan Syaikhu al-Masyayikh atau gurunya para guru. Gelar ini mencerminkan kedalaman ilmunya, terutama dalam bidang hadis, fikih, dan akidah Ahlussunnah wal Jama’ah.
Pendidikan dan Pembentukan Keilmuan
Sejak kecil, Hasyim Asy'ari menempuh pendidikan pesantren dari satu tempat ke tempat lain di Jawa dan Madura. Ia kemudian melanjutkan studinya ke Makkah dan berguru kepada ulama-ulama besar dunia Islam. Di sana, ia memperdalam ilmu hadis hingga dikenal sebagai salah satu ulama Nusantara yang menguasai Kutub at-Tis’ah (sembilan kitab hadis utama).
Pengalaman intelektual dan spiritual ini membentuk pandangan keislaman Hasyim Asy'ari yang kuat dalam tradisi, tetapi tetap relevan dengan konteks sosial masyarakat Indonesia.
Pesantren Tebuireng: Pusat Pendidikan Ulama
Pada tahun 1899, Hasyim Asy'ari mendirikan Pondok Pesantren Tebuireng di Jombang. Pesantren ini berkembang menjadi salah satu pusat pendidikan Islam terpenting di Indonesia. Tebuireng tidak hanya mencetak ulama, tetapi juga melahirkan tokoh-tokoh nasional, termasuk putranya K.H. Wahid Hasyim dan cucunya Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Presiden RI ke-4.
Melalui pesantren, Hasyim Asy'ari menanamkan etika keilmuan, disiplin moral, dan semangat kebangsaan kepada para santri.
Mendirikan Nahdlatul Ulama
Nahdlatul Ulama didirikan pada 31 Januari 1926 di Surabaya. Organisasi ini lahir sebagai respons terhadap tantangan global dan lokal, seperti menguatnya paham keagamaan ekstrem serta tekanan kolonialisme Belanda.
Hasyim Asy'ari bersama K.H. Wahab Hasbullah dan K.H. Bisri Syansuri mendirikan NU untuk menjaga ajaran Ahlussunnah wal Jama’ah, mempertahankan empat mazhab fikih, serta melindungi tradisi Islam Nusantara. Sebelum pendirian NU, Hasyim Asy'ari terlebih dahulu meminta restu kepada Syaikhona Kholil Bangkalan, seorang ulama kharismatik Madura. Restu tersebut menjadi legitimasi spiritual berdirinya NU.
Sebagai Rais Akbar pertama NU, Hasyim Asy'ari memimpin organisasi ini dengan pendekatan moderat, mengedepankan persatuan umat dan cinta tanah air.
Pemikiran Keislaman Hasyim Asy'ari
Pemikiran Hasyim Asy'ari berakar kuat pada ajaran Ahlussunnah wal Jama’ah. Menurutnya, Islam harus dipahami melalui Al-Qur’an, Sunnah, ijma’, dan qiyas, serta mengikuti salah satu dari empat mazhab fikih: Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hanbali.
Ia menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara agama dan tradisi, serta menolak sikap ekstrem dalam beragama. Prinsip inilah yang kemudian menjadi fondasi ideologis Nahdlatul Ulama hingga hari ini.
Resolusi Jihad dan Peran dalam Kemerdekaan
Salah satu kontribusi terbesar Hasyim Asy'ari bagi bangsa Indonesia adalah Resolusi Jihad yang dikeluarkan pada 22 Oktober 1945. Fatwa ini menegaskan bahwa mempertahankan kemerdekaan Indonesia dari penjajah adalah wajib bagi umat Islam.
Resolusi Jihad menjadi landasan moral dan religius bagi perlawanan rakyat, khususnya dalam Pertempuran Surabaya 10 November 1945. Atas jasa inilah, Hasyim Asy'ari dikenang sebagai ulama yang menjembatani Islam dan nasionalisme Indonesia.
Karya-Karya Penting
Hasyim Asy'ari menulis banyak karya ilmiah yang hingga kini masih dipelajari, antara lain:
-
Adabul ‘Alim wal Muta’allim (etika guru dan murid)
-
Risalah Ahlussunnah wal Jama’ah
-
Muqaddimah al-Qanun al-Asasi li Jam’iyyah Nahdlatul Ulama
-
Risalah fi Ta’kidul Akhdzi bi Mazhabil A’immatul Arba’ah
Karya-karya ini menegaskan perhatian besar beliau terhadap pendidikan, akhlak, dan kemurnian ajaran Islam.
Wafat dan Penghargaan
K.H. Hasyim Asy'ari wafat pada 25 Juli 1947, setelah mendengar kabar agresi militer Belanda. Ia dimakamkan di Tebuireng, Jombang. Pemerintah Republik Indonesia kemudian menganugerahinya gelar Pahlawan Nasional sebagai bentuk penghormatan atas jasa-jasanya.
Penutup
Hasyim Asy'ari bukan sekadar pendiri Nahdlatul Ulama, melainkan juga simbol ulama pejuang yang menyatukan agama, pendidikan, dan nasionalisme. Warisannya terus hidup dalam NU, pesantren, dan semangat Islam Nusantara yang damai, toleran, dan cinta tanah air.